Anniversary 500th Reformation: Ecclesia Reformata Semper Reformanda Secundum Verbum Dei

Tidak terasa sudah menginjak 500 tahun usia  reformasi, yang merupakan suatu momen paling kontraversial, karena banyak  pihak yang tidak suka  dengan peristiwa ini salah satunya yang pasti adalah imperium Roma Katholik, karena melalui reformasi semua keganjilan yang dilakukan gereja waktu itu ditelanjangi.

Bagi orang yang bukan katolik, masa dimana gereja berkuasa bukanlah hal yang menyenangkan, justru ini dikatakan sebagai zaman gelap (The Dark Age) istilah dark age ini tidak dikenal dalam dunia katolik, tapi dunia sains dan para tokoh filsafat melihat ini adalah masa yang amat suram di mana segala ilmu pengetahuan yang tidak bersesuaian dengan gereja akan dibuang bahkan  para ilmuawanya akan dikejar oleh gereja dan dipaksa untuk mencabut pendapatnya. Diantaranya adalah Galieo Galilei dan Copernicus,(Bdk. Yumana, Kumana Ari, The Greates Phliosoper, ANDI. hlm 111) sehingga di sisi lain Gereja mendapatkan perlawanan dari para ilmuawan dan peristiwa ini dinamakan Renaisance.

31 oktober 1517 juga diperingati sebagai pesta Hallowen, tepat ketika Martin Luther seperti memakukan Yesus di salib, juga memakukan 95 tesisnya di depan pintu gereja Kastil Wittenberg, dengan tujuan untuk menuntut Uskup Agung Albrecht dari Mainz berhenti untuk melakuakn penjualan tehadap surat penhapus siksa (indlugensia). Juga Yohanes Tetzel yang menjadi sales  terbesar waktu itu. (bdk. David Michael Lindsey. Perempuan dan Naga. Kanisius. Hlm 65.)

Bagi sebagian warga monks menganggap sikap yang dilakukan oleh Martin Luther merupakan sikap yang keterlaluan atau membangkang, dianggap penyesat, dll. (bdk.Van den End. Harta Dalam Bejana. Hlm 163.) tetapi apakah itu salah? Yang dipertanyakan bukan kepada Luther tetapi bertanyalah kepada Paus yang berkuasa pada saat itu “apakah benar yang dilakukan Gereja”?

Di sinilah Integritas seorang Luther yang merupakan orang yang begitu sederhana dan juga anak kuliahan dari Wittenberg yang merupakan sekolah yang begitu baru dan sangat amatir, sehingga menurut sejarah bahwa Luther pernah kalah debat dengan Johan Eck.(Bdk. Wellem, F.D riwayat Tokoh, hlm 55) Tetapi Integritas Luther sangat dipertaruhkan ketika melihat keganjilan yang terjadi dalam tubuh Katolik pada saat itu, apakah dia harus ikut saja, atau mealukan sikap yang keras untuk melawan ketidak benaran sikap gereja.

Luther sebanarnya tidak ada rencana untuk melakukan reformasi gereja atau lebih teapatnya menghapus katolisisme, walaupun 95 tesis itu ditulis itu bukan ditujukan untuk menghancurkan gereja tetapi sebenarnya itu merupkan paparan tentang Iman Kristen, atau ibarat penyakit Luther ini memberi obat maka tulisan ini tidak di buat dalam bahasa Jerman tetapi dalam bahasa Latin sehingga isinya hanya dipahami oleh kalangan Monks.

Dengan ketulusan untuk kembali pada Alkitab sebagai yang utama bukanlah tradisi gereja sehingga Luther dalam tulisannya dia mengecam terkait dengan Indlugensia yang dianggap oleh Paus sebagai Anugerah Allah yang terbesar, dan salib yang ditegakan didapan tempat penjualan surat ini sama nilainya dengan penyaliban Kristus(bdk Van den End, 95 Dalil Martin Luther,BPK 2017. hlm 47) secara ringkas sebenarnya yang paling utama adalah perihal Soteriologi, sebagaimana Luther menyatakan bahwa Pengampunan dosa bukan dari sakramen gereja tetapi Injil  Kristus yang mengampuni dosa.

Luther tidak merencanakan Reformasi tetapi melalui tulisan 95 dalil ini yang diambil oleh orang-orang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dicetak dan di sebarluaskan sehingga goncanglah Katholik pada saat itu karena tulisan ini tidak bisa dibendung lagi bahkan Luther sendiri tidak bisa membendungnya, sehingga ini yang membuat kebangkitan besar-besaran dimana runtuhlah integritas gereja pada saat itu.

Sehingga Luther dipakasa harus mengahdap Paus untuk mencabut tesisnya tetapi dengan tegas dengan penuh Integritas ketika ditanya Do You Recant? Luther menjawab I Can Not And I Will Not Recant! Dan kalimat feomenalnya adalah Here I Stand! Sehingga disinalah awal reformasi secara resmi terjadi.

Mengutip dari Billy Kristanto;  bagaimana reformasi bisa bergerak? Jawabannya sederhana yakni karena ada jehadiran Tuhan di sana, reformasi ini menangkap gerakan api yang Tuhan hadirkan di dalam gereja, reformasi tidak hanya berpengaruh tapi dipengaruhi oleh Alkitab, reformasi tidak bisa ditahan bahkan oleh Luther sendiri, bukan sekedar The Human Be Story, tetapi The Story Of God, Reformasi adalah bagaimana cerita bahwa Tuhan menyertai orang sederhana seperti Martin Luther.

 

Sikap-sikap Etis yang Mestinya Gereja Sadari Melalui Reformasi

Ecclesia Reformta Semper Reformanda Secundum Verbum Dei merupakan Spirit yang harus terus berjalan samapai hari ini, gereja harus sadar betul bahwa tolok ukur utama adalah Alkitab, bukan yang lain, gereja tidak akan sesat jika terus berpegang pada Alkitab.

Sebuah perajalanan yang panjang dimana gereja yang sudah direformasi harus terus di reformasi entah secara birokrasi maupun secara doktrinal, kebangkitan kekristenan di Afrika sangat meningkat tetapi pengajar-pengajar sesat juga terus tumbuh berkembang.

Melalui Reformasi ini juga setidaknya  Gereja harus memikirkan generasi kedepan supaya gereja tidak terlena oleh zaman, gereja harus bergerak dalam dunia sosial, dalam pembangunan Sumber daya manusia, seperti yang diilakukan Luther adalah tidak hanya berfikir bagaimanaa reformasi tapi bagaimana orang bisa mengerti reformasi, walaupun di dengungkan reformasi jika banyak masyarakat yang masih buta huruf maka sia-sia saja reformasi sehingga orang-orang harus di didik, maka diterjemahkanlah Alkitab ke dalam bahasa Jerman dan bahasa itulah yang menjadi standar bahasa Jerman yang di gunakan sampai hari ini. Reformasi yang membukakan mata orang Jerman sehingga melihat jati dirinya sebagai warga Jerman yang berbahasa Jerman bukan orang Roma yang berbahasa latin karena gereja telah membuat orang  menjadikan orang menjadi Roma.

Gereja harus bangun untuk menatap masa depan, tantangan dari dunia sangat menekan anara lain tantangan tumbuhnya gereja LGBT, Aborsi, dan kejahatan lainya memaksa gereja harus memiliki sikap yang jelas. Belanda yang dulunya adalah tempat diamana Kalvin sangat tegas memperjelas Reformasi tetapi sekarang sudah menjadi sekularisme, Teology yang dulunya menjadi The queen of Science sekarang sudah sepertinya hilang daya. Siapakah yang bertanggung jawab dengan masalah ini? Jawaban tepatnya adalah Gereja.

Meilhat Kekristenan mulai pudar di Eropa dan Amerika tetapi kebangkitan besar-besaran justru di Asia wilayah Timur tengah, dan juga Afrika, sehingga gereja yang telah di reformasi harus memilki dampak misi, menjalankan amanat agung Tuhan Yesus.

Gereja bukan hanya menerima income tetapi gereja harus bisa memikirkan Income Jemaat dengan mengedukasi untuk memberdayakan hidup, dengan melakukan pendekatan dalam segala bidang entah pertanian, Tekstil, bahkan dari skala kecil sampai berskala besar. 

Oleh: Tras Satriawarman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *