Cerdas Untuk Setara

Cerdas untuk Setara
Oleh : Elizabeth Lana

8 maret, hari yang spesial bagi kaum perempuan di seluruh dunia karena di tanggal ini, diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional, di hari ini Perempuan di beri ruang yang bebas untuk mengeluarkan ekspresi dan aksi atas apa yang mereka inginkan serta butuhkan. 8 maret adalah hari yang amat penting bagi kaum perempuan. lantas, pernah kah ada pertanyaan dari kita tentang mengapa harus menunggu tanggal 8 maret baru seorang perempuan itu bisa membuat aksi ? Apakah kesadaran hanya muncul menjelang tanggal 8 maret saja ? Refleksi dan renungan atas hari perempuan internasional menjadi hal yang penting karena pada realita sekarang ini, kaum kita(perempuan) masih saja bergelut dengan berbagai macam kasus ketidakadilan yang kita terima.Ambil saja contoh mengenai kuota 30% bagi perempuan di DPR (legislatif). Kalau kita mau berfikir kritis, harusnya kita bertanya mengapa hanya 30%? Mengapa harus ‘dijatah’ kedudukan kita di kancah politik? Pernah ada yang bilang ke saya begini “jangan protes kalau cuman di kasih 30%,dengan angka segitu saja perempuan pun tidak bisa memenuhi kuota itu” . Kemudian saya berfikir, mungkin ada benarnya kata orang itu karena melihat data di berbagai daerah di Indonesia, kuota 30 % legislative bagi wanita pun sulit untuk di penuhi. Kemudian pada satu titik saya berfikir kembali, mengapa ada kuota? Mengapa di batasi? Apakah karena ada kuota makanya perempuan sudah ‘’down’’ terlebih dahulu? Saya selalu berpendapat bahwa ketidakadilan yang kami terima adalah karena perempuan menerima begitu saja perlakuan tak adil dan tak pantas itu. Jika berbicara tentang kesetaraan,maka sudah selayaknya ruang kesempatan dibuka secara bebas dan adil. Jika semua perempuan berfikir demikian, maka kuota 30% legislatif sangatlah sedikit. Tidak akan ada yang nama nya kuota 30% itu tidak terpenuhi.
Ruang yang terbatas justru hanya akan menambah daftar ketidakadilan bagi perempuan khususnya,dalam kancah politik.mengapa tidak dibuka saja ruang seluas-luasnya tanpa ada batasan kuota sehingga disitu akan nampak jelas bagaimana kemauan dan niat perempuan dalam berpolitik. Jika mengenai perempuan selalu dengan batasan angka-angka saja,maka kesetaraan hanya akan terus menjadi wacana yang tidak terimplementasi.

Perempuan selalu identic dengan dapur dan kasur, dituntut untuk ‘melayani’ laki-laki dengan dalil bahwa itu sudah kodrat nya. Berbicara tentang kodrat,kita haruslah paham apa itu kodrat. Kodrat adalah suatu sifat lahiriah/biologis yang tak dapat diubah. Ketika manusia dilahirkan ke dunia dengan berjenis kelamin perempuan,maka itu adalah takdir yang tak dapat diubah karena tentu ia tak dapat kembali ke Rahim ibu nya.tetapi bukan kodrat dia untuk menjadi kaum kelas dua (2) yang terus-menerus menjadi sasaran pelecehan dan kekerasan.fenomena belakangan yang berkaitan dengan perempuan adalah fenomena Pelakor ( pelaku orang ketiga). Kalau kita melihat social media,sebagian besar masyarakat menyalahkan ‘’perempuan’’ nya karena dianggap sebagai penggoda, perusak dan juga yang memulai hubungan. Pernah kah ada yang menyalahkan pria nya? Selalu dengan dalil begini ‘’kalau pintu nya gak di buka,mana mungkin tamu nya masuk’’ . nah, sekarang pernah tidak bertanya, ‘’untuk apa datang mengetuk ke pintu terlarang’’?. Sudah jelas aturan dan norma nya bahwa pria beristri sudah punya rumah sendiri beserta dengan pintu nya yang bebas ia ketuk.

Fenomena fenomena kekinian mengenai perempuan yang sering kita anggap sepele,justru sebenarnya bisa menjadi bahan permenungan yang mendalam. Terlalu besar jika kita berbicara mengenai gerakan massa yang besar untuk keadilan perempuan jika dari dalam diri perempuan itu sendiri belum mau untuk ‘’Melawan’’ penindasan terhadap dirinya.kita tidak perlu menentang patriarki untuk bisa setara, kita tidak perlu balik menjajah kaum pria jika kita berada pada posisi yang lebih berkuasa. Kita hanya perlu menjadi pemberani dan mencerdaskan diri kita sehingga kita bebas dari segala pembodohan dan ketidakadilan. Lihatlah sosok Menteri Susi yang ketegasan nya mengalahkan menteri – menteri pria. Lihatlah menteri Sri Mulyani yang mampu menjadi menteri terbaik dunia,mencapai karier yang tinggi tanpa meninggalkan keluarga nya.

Gerakan feminisme bukan hanya tentang kita turun aksi di jalan dengan jumlah ribuan massa, feminisme adalah gerakan yang membebaskan perempuan dari kebodohan dan sikap anti-kritis.perempuan harusnya bukan hanya mempunyai pengaruh dalam kaum nya sendiri tetapi juga atas banyak orang dari berbagai gender.kalau perempuan menjadi pemimpin untuk kalangan perempuan saja,maka ia belum berhasil membuat diri nya terlihat setara. Kita bisa lihat perdana menteri Inggris era perang dunia II, Margareth Tatcher yang menjadi perdana menteri perempuan pertama dengan anggota parlemen hampir 100% nya adalah laki-laki. Marilah di hari perempuan internasional ini,kita para perempuan mempunyai pandangan dan visi yang tinggi akan cita – cita. Mempunyai keinginan untuk berkarya bagi bangsa,dan masyarakat umum. Kiranya perempuan perempuan Indonesia terbebas dari rasa takut dan mempunyai keberanian untuk Melawan setiap ketidakadilan yang ada.bukan hanya ketidakadilan terhadap kaumnya saja,tetapi seluruh golongan masyarakat.dari Rahim perempuan,seorang anak manusia bisa lahir di dunia maka yakinlah dari perempuan lah, perubahan manusia ke arah yang lebih baik dapat tercipta.
Kiranya Tuhan Memberi perkenaannya dan berkatnya bagi kita perempuan perempuan di dunia khususnya di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *