Diskusi | Peran Pemuda Dalam Menyambut Tahun Politik

Surabaya – Pemuda Cipayung (yang dihadiri PMKRI, PMII, GMKI) menjalin silaturahmi dengan sebuah diskusi dengan tema “Peran Pemuda Dalam Menyambut Tahun Politik”. Acara yang diadakan pada Sabtu (20/01/2018) di Margasiswa PMKRI Surabaya ini dibawa oleh tiga pemantik yaitu Aldo (PMKRI), Ghorby (GMKI), dan Handi (PMII). Dimana tahun 2018 merupakan tahun Demokrasi menyambut, yang nantinya akan disambut dengan pemilihan Gubernur. Bagaimanakah upaya dan peran pemuda agar dapat dimaksimalkan dalam menanggapi tahun politik ini?

Melihat kaum pemuda dalam tahun politik, Bung Aldo berpendapat bahwa pemahaman kaum muda tentang politik saat ini cenderung apatis terhadap politik. Namun pemuda sangat gencar untuk berkomentar ketika berada di social media, Justifikasi sering dilontarkan tetapi apakah komentar tersebut berdasarkan sebuah kajian? Kelemahan kaum muda pada saat ini mereka cepat sekali mengambil sebuah kesimpulan hanya dari opini 2-3 orang saja. Kebanyakan dikalangan aktivis sendiri sikap dalam konstelasi calon yang ada saat ini masih bingung akan arah yang diambil.

Untuk mengatasi permasalahan yang ada di kaum pemuda perlu dilakukan sebuah edukasi politik. Bung Ghorby berpendapat bahwa, “Setiap tahunnya kita akan memasuki tahun politik, tetapi apakah politik itu ditujukan untuk kebaikan bangsa atau justru membodohkan negeri ini sendiri ?” Seorang pemuda terpelajar harus dapat berbuat adil dalam pikirannya apalagi perbuatan. Menurut paparan Badan Intelejen Negara, akan ada beberapa tantangan berupa isu-isu yang akan dihadapi dalam menyambut pemilihan gubernur seperti isu pangan, kepentingan agama, primordialisme, dan kesenjangan masyarakat. Perlu dicermati bahwa pemuda jangan hanya sekedar memilih pemimpin tetapi bagaimana program-program kerja yang dibawakan calon dalam menghadapi isu-isu yang terjadi serta melakukan sebuah counter wacana, tidak hanya bergantung kepada kelembagaan yang dibentuk pemerintah tetapi memiliki sebuah kepekaan dan inisiatif terhadap wacana keadilan.

Di sisi lain keresahan mengenai unsur SARA pun ikut muncul dibawa ke dunia politik karena digunakan untuk memenangkan satu oknum beberapa saat lalu, untuk menjaga unsur SARA agar tidak masuk ke proses politik, peran kita sebagai kaum muda demi menjaga stabilitas harus dilakukan. Bung Handi berpendapat bahwa politik itu sebenarnya baik, hanya saja oknum-oknum yang melakukan politik tersebut yang akhirnya mencerminkan politik itu buruk dimata orang, melihat cerminan di Cipayung sendiri sekitar 65% Alumni di Cipayung ujung-ujungnya yang diambil yaitu dunia politik. Sikap kurang bijak dari Alumni tersebut sendiri, sehingga seringkali timbul adanya interfensi dari atasan yang membatasi kedewasaan kita dalam berpolitik, dan perlu diklarifikasi bahwa Cipayung tidak mengantarkan Siapapun Calon untuk Pemilihan Gubernur kedepan. Sebelum mengakhiri, ia mempertegas bahwa “Jangan sekali-kali mengatasnamakan SARA dalam dunia politik, karena Politik layak untuk dibahas oleh semua khalangan, jangan mengatakan politik itu keji, bila kita belum terjun ke dalamnya !”

Besar harapan sebagai kaum pemuda yang intelek dan melek akan sekitar kita harus memegang independensi dari diri kita, terlebih yang berada di sebuah organisasi kaderisasi, karena sejatinya Organisasi Mahasiswa (seperti Cipayung, dkk) merupakan organisasi KADER bukan organisasi POLITIK.  (/bnath)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *