GMKI Surabaya Berbagi Nasi Bungkus di Dies Natalis 68

Kader GMKI ketika membagikan nasi bungkus.

Sabtu 10/02/18 – Dies Natalis yang ke 68 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia atau biasa disebut GMKI kali ini dimaknai tidak biasa oleh GMKI Surabaya. Para pemuda sejak siang sudah berkumpul di terminal bratang untuk membagikan nasi bungkus kepada para pelaku transportasi yang hampir tidak laku di kota Surabaya. Mereka antara lain tukang becak, sopir bemo dan sopir bus.

Terasa menyejukan bagi pelaku transportasi di terminal bratang meskipun panas siang hari terpapar. Mereka berterima kasih oleh karena masih adanya pemuda-pemudi yang masih peduli dengan kondisi yang mereka rasakan, sepinya  penumpang saat ini oleh karena maraknya transportasi online.

Salah satu sopir bemo menceritakan, sekarang mencari penumpang sangat sulit. Sehari dapat pemasukan lima puluh ribu rupiah sangatlah beruntung, bahkan bisa kosong melompong. Makan untuk diri sendiri sudah sangatlah sulit dengan iklim transportasi saat ini apalagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak jarang sehari makan hanya satu kali ungkapnya.

Ungkapan senada juga disampaikan Supeno tukang becak yang biasa beroperasi di depan pintu masuk terminal bratang. Dari pagi sampai malam jika mendapatkan dua penumpang sangatlah bersyukur.

Geliat transportasi online di Surabaya yang semakin tak terbendung perlu menjadi perhatian khusus pemerintah Surabaya, pasalnya tranportasi yang dianggap kuno seperti becak, bemo dan bus antar kota tidak lagi diminati masyarakat Surabaya yang mengakibatkan anjloknya pemasukan pelaku transportasi tersebut.

Mahasiswa yang biasa disebut aktor intelektual tidak hanya berkutat di kampus dengan melihat keresahan kaum papah ini, tidak sekedar mengkritisi pemerintah dengan berteriak-teriak di media sosial atau di jalan, tetapi mahasiswa harus hadir secara nyata turun ke masyarakat langsung merasakan penderitaannya dan menjadi mediator antar kaum papah dan pemerintah, sehingga permasalahan tersebut tidak berlarut-larut menjadi permasalahan ketimpangan sebuah kota. “Pembangunan infrastruktur kota Surabaya harus terintegrasi dengan aspek pemberdayaan manusianya dari hulu sampai hilir, lingkungan hidup, budaya gotong royong dan ekonomi yang tidak tebang pilih karena pemerintah kota Surabaya terkesan lebih mendahulukan kelompok yang memiliki modal besar dalam kebijakannya, sehingga kesejaterahan kota tidak dinikmati oleh kelompok tertentu !”, ungkap Ghorby Sugianto ketua GMKI Surabaya.

Setelah berbagi nasi bungkus dan berdialog dengan pelaku transportasi di terminal bratang, kegiatan Dies Natalis GMKI Surabaya dilanjut dengan ibadah ucapan syukur. Di usia ke 68 ini GMKI Surabaya masih mampu eksis ditengah keapatisan mahasiswa terhadap organisasi extra kampus. Kegiatan seperti kaderisasi menyiapkan pemimpin pemuda, diskusi isu yang berkembang dimasyarakat, pendalaman spritualitas dan menjadi mitra kritis maupun mitra karya, GMKI tetap setia pada jalan tersebut. (/G.A.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *