MENGENAL KAUM HAWA DARI SARA DAN HAGAR

Siapa yang tidak mengenal Sarai (Kejadian 17:15 namanya diganti menjadi Sara) dan Hagar? Dua tokoh perempuan dalam kitab perjanjian lama yang diberkati Tuhan dalam status yang berbeda. Sara adalah perempuan merdeka, istri dari Abram anggota komisariat ukdcseorang yang kaya raya (Kejadian 13:2,6). Sara tidak mempunyai anak karena ia mandul (Kejadian 11:30). Sedangkan Hagar adalah seorang budak perempuan Sara yang berasal dari Mesir hasil tipu suaminya Abram yang didapat dari Firaun setelah Sara dijadikan zinah oleh Abram.
Pada suatu hari, Sara memberi tawaran supaya Abram menghampiri Hagar budaknya dengan harapan akan memperoleh seorang anak dari hubungan Abram suaminya dengan Hagar budaknya itu. Harapan hanyalah harapan, semuanya berbanding terbalik dari apa yang direncanakan oleh Sara. Ketika Hagar mengetahui bahwa dirinya mengandung anak tuannya, sikapnya justru melonjak. Ia tidak menghargai Sara selaku nyonyanya, Ia memandang rendah akan nyanyonya dan itu membuat Sara sangat marah dan menindas Hagar. Penindasan yang dilakukan Sara membuat Hagar melarikan diri karena ketakutan dan depresi yang dialaminya. Namun, dalam pelariannya ada malaikat Tuhan yang menampakkan diri kepada Hagar dan menyuruh Hagar kembali pulang kerumah tuannya. Hagarpun kembali ke Sara dan Abram sampai dia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram yang bernama Ismael sebagaimana perintah malaikat pada waktu ia lihat itu.
Tuhan kembali mangulangi janjiNya kepada Abram tentang kelahiran seorang anak laki-laki kepada Abraham ( Kejadian 17:5 namanya diganti menjadi Abraham) dari rahim Sara, istrinya. Akhirnya dengan kuasa Tuhan dan penggenapan janji Tuhan, mengandunglah Sara dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishak. Ketika Ishak bertambah besar (begitu juga dengan Ismael yang lebih tua dari Ishak), Sara menyuruh Abraham untuk mengusir Hagar dan Ismael dari rumahnya karena ia tidak ingin Ismael menjadi ahli waris sekalipun Ismael adalah anak Abraham yang juga adalah anak tiri Sara. Dengan berat hati Abraham mengusir Hagar beserta Ismael anak kandungnya itu.
Dilihat dari sepenggal kisah Sara dan Hagar, kita melihat betapa kejamnya Sara kepada Hagar hambanya yang lemah itu. Ia memperlakukan Hagar dengan sesuka hatinya. Keegoisannya juga terlihat dari segi perlakuan yang ia buat terhadap hambanya itu. Namun, jika kita telaah lagi mengapa Sara melakukannya, itu hanyalah seolah-olah ia ingin memberikan keturunan kepada Abram sekalipun bukan dari rahimnya sendiri melainkan dari rahim Hagar, budaknya sendiri. Penindasan yang dia lakukan semata-mata karena ia tidak terima atas penghinaan yang dilakukan Hagar terhadap dirinya. Hagar adalah seorang budak yang taat dan tunduk, dia adalah seorang hamba yang tidak memiliki kekuatan, dia juga tidak memiliki nilai apapun. Pada masa itu budak dinilai sebagai properti atau hak milik dan sesuai dengan tradisi, tuan boleh melakukan apa saja kepada budaknya. Konsep ini jauh berbeda dengan konsep jaman sekarang. Apalgi ditemukan adanya berita penindasan dan kekerasan sesama perempuan. Jika kita beralih ke Abram, kita dapat melihat bahwa gen dari nenek moyang masih melekat dalam tubuh Abram yang dengan mudah mengiyakan apa yang diperintahkan istrinya kepadanya yaitu menghampiri Hagar tanpa menanyakan Tuhan terlebih dahulu. Hal ini hampir sama dengan kisah Adam yang terpengaruh akan Hawa untuk memakan buah larangan Tuhan.
Dari tokoh ini tampak jelas bahwa betapa lemahnya manusia sehingga sangat mudah bergumul dengan dosa. Jika kita kaitkan dengan kehidupan sekarang, ada begitu banyak hal yang serupa terjadi di dunia ini bahkan yang tanpa kita sadari ada di sekitar kita. Suami istri yang belum di karuniakan seorang anak, ketidakharmonisan hubungan dan perceraian bahkan poligami. Kita seringkali bertindak cepat dalam masalah yang kita hadapi tanpa memikirkan akibat dari tindakan itu. Sering juga tindakan tersebut bukanlah jalan keluar dari masalah kita melainkan pemunculan masalah baru. Ketika sebuah masalah besar dihadapkan pada kita, keegoisan sangat mudah muncul. Kita dengan mudah mengorbankan orang lain demi penyelesaian masalah kita. Seperti Abram yang tega memberikan Sara kepada Firaun demi keberlangsunan hidupnya. Memang suatu pilihan yang sulit, namun itu bukanlah hal yang di kehendaki oleh Tuhan. Banyak orang yang berkata bahwa salah satu tujuan dari pernikahan adalah untuk memperoleh keturunan. Perempuan mana di dunia ini yang tidak ingin melahirkan seorang anak dari rahimnya sendiri? Namun, bagaimana dengan nasib mereka yang sampai saat ini belum juga mempunyai keturunan? Disini tidak ada yang bisa menghakimi bagaimana kehidupan rumah tangga mereka yang belum di karuniakan buah hati oleh Tuhan. Namun, Tuhan kita adalah Tuhan yang jauh lebih besar dari masalah kita. Jika kita memandang kemandulan atau hal apapun yang menjadi penghambat untuk memperoleh keturunan adalah masalah, dimata Tuhan itu bukanlah masalah. Kita sering mengaku bahwa kita percaya kepada Tuhan yang adalah sumber kehidupan. Tetapi kita juga sering lupa bahwa Tuhan mempunyai kemahakuasaan yaitu mampu melakukan segala sesuatu yang mustahil bagi manusia. Tuhan telah berjanji akan selalu menyertai kita dalam masalah sekecil apapun. Tuhan hanya meminta kita untuk percaya dan setia berjalan bersamaNya. Meskipun sulit, percayalah janji Tuhan itu lebih manis daripada madu.Tuhan telah berjanji kepada orang yang percaya dan melihat bahwa Tuhan bekerja dengan caraNya sendiri bukan dengan cara manusia. 
Masalah Kekerasan antar sesama perempuan bukan hal yang asing lagi untuk di dengar. Kekerasan antara anak perempuan terhadap ibunya kandungnya sendiri. Seorang anak yang tega memperbudak ibunya, menganiaya, bahkan ada yang tega membunuh ibu kandungnya sendiri. kekerasan antar sesama teman hanya gara-gara masalah sepele, dan pembullyan. Bahkan sampai saat ini juga masih banyak di temukan kasus kekerasan antara seorang tuan/nyonya terhadap budak (asisten rumah tangga) perempuannya. Jika kita lihat lebih jauh lagi, ada begitu banyak kekerasan yang terjadi antar sesama kaum hawa. Keegoisan memang sangat mudah bersarang dalam diri kita. Seringkali kita berpikir bahwa diri kitalah yang paling benar dan pantas didengar dan dihargai. Ketika pemikiran seperti itu hinggap di kepala kita, orang lain selalu kita anggap rendah, orang lain jauh lebih buruk dari kita. Saat kita merasa diri kita hebat, kita hanyalah bak orang gila yang membanggakan diri kita sendiri dan merasa mampu serta pantas melakukan segala sesuatu. Jangan bangga akan dosa yang kita lakukan. Sesama perempuan diharapkan dapat saling menghargai dan mengasihi karena kita sama-sama terbuat dari tulang rusuknya kaum Adam. Kita hidup bukan hanya membutuhkan sandang dan pangan saja. Kita butuh penghargaan dan pengakuan dari orang lain juga. Ketika kita membully orang lain, pada saat itu jugalah kita sedang meremehkan ciptaan Tuhan. Setiap perempuan yang di taruh Tuhan di dunia ini adalah orang yang di takdirkan untuk cantik. Namun kecantikannya akan sejati apabila itu berasal dari hati yang dipenuhi dengan roh yang lemah lembut dan tentram. Manusia adalah maklhuk yang sempurna dalam keterbatasan. Sehebat apapun diri kita, setinggi apapun jabatan kita, seindah apapun paras kita, dan semerdeka apapun hidup kita, di mata Tuhan status kita masih tetap sama dengan orang yang berada di bawah kita. Perempuan dikenal memiliki hati yang lembut namun dia tidak lemah. Jika ia kuat bukan berarti hatinya tak bisa rapuh. Ketika kita diposiskan Tuhan sebagai orang yang ditindas, tetaplah kuat dan jangan membalas penindasan tersebut dengan penindasan pula. Kita hanya cukup setia dalam rencana Tuhan, karena Tuhan memberkati orang yang taat. Tuhan selalu mempunyai cara yang unik untuk membuat kita menang. Cara Tuhan selalu diluar jalan pikiran kita. Tapi cara itulah yang membuat kita menjadi seorang pemenang.

Satu tanggapan untuk “MENGENAL KAUM HAWA DARI SARA DAN HAGAR

  • 05/11/2018 pada 07:38
    Permalink

    baca firman dengan benar berkata dengan hikmat Tuhan
    Abram bukan menipu Firaun tetapi karena takut dia berbohong agar tidak dibunuh, itu pemikiran Abram. jadi ABRAM TIDAK BERNIAT JAHAT UNTUK MENIPU FIRAUN DAN MENDAPATKAN BANYAK HARTA KEKAYAAN DARI FIRAUN.
    nipu dan bohong itu berbeda. jadi jangan menuduh Abram nipu Firaun.
    dan hadiah dari Firaun itu bukan rencana Abram. tetapi Tuhanlah yang menggerakkan hati firaun untuk memberikan banyak hadiah.
    sehingga janji Tuhan untuk memberkati Abram tergenapi kej 12:2

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *