Opini | Orang Kepercayaan Rakyat

Rakyat adalah kekayaan yang sangat berharga  dan terbesar bagi suatu negara, bahkan melebihi kekayaan akan sumber daya alam yang setiap negara miliki. Dalam standarisasi negara yang aman dan damai tentunya memiliki standarisasi yang membuat rakyat yang menetap pada negara itu merasa aman dan damai pula. Perwujudan akan hal itu tentunya diaplikasikan dengan terpilihnya orang-orang yang mampu menjadi wakil rakyat dan mampu mewujudkan impian – impian rakyat itu ,serta yang mampu mendengarkan keluh kesah dan cemoohan mereka ( rakyat) dinegara tercinta. Rakyat percaya bahwa jika semua orang yang memimpin negara ini maka roboh dan hancurlah negara kita, tidak akan ada sikap dimana saling menghargai, tidak akan UUD yang akan mengatur semua orang sehingga bersikap semena-mena , tidak akan ada manusia yang manusiawi, tidak akan ada budaya yang indah lagi yang  akan ada peperangan dan keegoisan dimana- mana . tersadar akan ada banyak hal terjadi maka rakyat memilih untuk mempercayai seseorang ntuk menjadi penyambung lidah dan pemersatu mereka. dengan berlandaskan BHINEKA TUNGGAL IKA yang ditetapkan negara pertiwi ini, keindahan alam tiada terukur, beribu-ribu pulau yang menjadi keunikan yang tidak dimiliki oleh negara lain , kebudayaan yang luar biasa, menyatukan beribu-ribu bahasa dengan satu bahasa yaitu bahasa indonesia. Maka  harus adanya perwakilan rakyat untuk menjaga semua itu. Wakil rakyat adalah harapan terbesar dari rakyat, mereka adalah orang terpercaya untuk membangun negara dan bangsa ini, setiap sikap dan tindakan mereka selalu dilihat dan menjadi cermin. Jika hal itu tidak tepat maka rakyat berbondong- bondong dengan segala cara untuk menyampaikan teguran walau terkadang itu menyakitkan secara manusia, namun itulah hal yang harus diperhatikan untuk melihat kembali apapun yang mereka lakukan mereka sebagai orang – orang kepercayaan rakyat.

Ia mereka adalah pemimpinan kami, mereka adalah tulang punggung dan pelindung dari segala kekayaan yang dimiliki negara kami, mereka adalah penyambung lidah dari rakyat, mereka adalah orang- orang  terpilih untuk menggenggam harta negara. Dipundak mereka di beri tanggung jawab besar dan berat dari rakyat, dari mereka lah rakyat ingin melihat surga dirumah mereka sendiri, di tangan merekalah rakyat mendambakan kedamaian. Pada merekalah rakyat berani memberikan segala keluh kesah dan cemoohan sebagai pertanyaan mengapa negara atau rumah mereka mulai terasa panas dan garang, mengapa orang – orang kepercayaan rakyat mulai tidak konsisten dengan keinginan rakyat dan mengapa mulai ada jarak antara rakyat dan orang orang yang menjadi kebanggaan kami ? .

Hari ini dan saat ini semua asumsi mengenai pertanyaan itu, menjadi hal terburuk yang sementara terjadi, rakyat menjadi menangis , rakyat menjadi budak akan orang – orang kepercayaan mereka sendiri, rakyat menjadi begitu jauh dengan para pemimpin mereka, rakyat mulai merasakan ketidaknyamanan, rakyat mulai tidak memiliki tempat tinggal dirumah mereka sendiri. Para kepercayaan rakyat mulai menjadi orang yang keji, mengambil dan membodohi rakyat mereka sendiri, mereka mulai bertindak dengan uang sebagai pemecah segalanya. Seribu keserakahan dan neraka kecil mulai hadir dinegara ini, surga yang dulu diimpikan hanya mimpi . ketidakadilan tercipta dimana-  mana. Mereka yang dipercayai mulai egois dan menganggap rakyat sangat rendah, daging para pemimpin bertumpu lemak sedangkan daging rakyat hanyalah tulang yang menonjol bertutup kulit yang melarat. Sungguh menjadi sangat pengkhiatan terbesar bagi rakyat.

Ketika rakyat mencoba untuk untuk berbicara namun para pemimpin mulai membuat batasan dengan adanya aturan yang memberatkan rakyat sendiri, dimana aturan yang tidak seharusnya ada atau terlintas di benak mereka. Suara rakyat suah tidak didengarkan, suara rakyat hanyalah sampah, suara rakyat adalah materi yang menjadi bahan tertawaan para pemimpin, teriakan rakyat hanyalah musik melow yang membuat mereka tertidur. Ketika mata para orang kepercayaan rakyat tertutup oleh uang sebagai kekayaan saat ini, ketika para pemimpin rakyat menjadi bisu karena uang, ketika kehidupan benar benar tidak memanusiakan manusia.

 

“Hey….. ada apa dengan kalian ?

Apa yang terjadi ?

Masih adakah diantara kalian yang melihat dan memiliki sebuah rasa, dimana rasa itu mampu membuka mata hati kalian ?

Masih adakah yang mendengarkan suara rakyat ?

Kembalilah dan jadilah sahabat rakyat.

Jadilah penampung semua keluh kesah rakyat

Hilangkan aturan yang membuat semuanya makin Rumit”

(170118 Ekravilo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *